Kemitraan PTPN I (Persero) dengan Petani Pemilik Lahan Hasilkan Tembakau Bawah Naungan (TBN) Berkualitas Premium
Globalnetwork.id , JEMBER – Desa Ajong di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kini semakin mengukuhkan reputasinya hingga ke mancanegara.
Kawasan ini menjadi episentrum budidaya Tembakau Bawah Naungan (TBN) berkualitas premium yang produksi PTPN I (Persero) Regional 5.
Komoditas emas hijau ini terus menjadi buruan utama para pembeli global, mulai dari kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.
Meskipun potensi pasar ekspor sangat menggiurkan, PTPN I sebagai BUMN Perkebunan tidak ingin memonopoli gurihnya devisa sendirian.
Manajemen PTPN I (Persero) memilih opsi populis yang berpihak pada rakyat demi memenuhi permintaan pasar global yang terus meningkat.
Langkah strategis ini melalui skema kemitraan dengan masyarakat sekitar secara inklusif, profesional, dan kompetitif.
Kehadiran kebun tembakau ini terbukti berkontribusi nyata pada tingginya serapan tenaga kerja lokal, sekaligus menjaga muruah warga pemilik lahan.
Amanat Negara
Direktur Utama PTPN I, Dr. Abdul Rivai Ras, menegaskan bahwa kebijakan bermitra dengan masyarakat lokal merupakan amanat negara.
Dalam konteks kemitraan di Jember, PTPN I merangkul para petani pemilik lahan persawahan yang biasa menanam padi atau palawija untuk ikut serta dalam rantai pasok tembakau dunia.
Caranya, melalui model bisnis berkelanjutan yang melibatkan warga secara langsung, terstruktur, dan sistematis.
Kolaborasi agribisnis di Ajong, Jember ini sebagai model bisnis yang inklusif sekaligus berkelanjutan.
Di satu sisi, PTPN I mengukuhkan posisinya di pasar internasional lewat keunggulan TBN, dan di sisi lain, petani lokal menghadirkan potensi aset lahan yang luar biasa.
Melalui skema rotasi komoditas, PTPN l melakukan sewa lahan persawahan warga secara kompetitif.
Dengan komitmen penuh bahwa aktivitas produksi dan penggarapan di lapangan tetap memberdayakan pemilik lahan itu sendiri.
Dengan pola ganda ini, petani berhak mendapatkan uang sewa di depan sekaligus menerima upah dari hasil pekerjaannya.
“Melalui pendekatan ini, ‘praja’ alias harga diri mereka sebagai pemilik sawah tetap terjaga seutuhnya” ujar Abdul Rivai Ras di Jakarta, Kamis, (9/7/2026).
Percontohan Nasional
Skema kemitraan lahan oleh PTPN I Regional 5 di Ajong ini proyeksikan menjadi percontohan nasional untuk model kemitraan agribisnis masa depan.
Rivai menjelaskan, nilai kompensasi sewa lahan persawahandi Ajong sangat kompetitif dan bernilai ekonomis tinggi bagi setiap hektare lahan dalam satu musim tanam.
Jaminan dana segar di awal musim ini memberikan ketahanan finansial yang kuat bagi keluarga pemilik lahan sebelum masa tanam dimulai.
Meskipun status lahannya sewakan kepada korporasi untuk budidaya tembakau ekspor, para petani sama sekali tidak kehilangan akses hukum maupun fisik terhadap aset tanah yang mereka miliki.
Pemilik tanah tetap berkecimpung langsung di ladang, mengawal keamanan asetnya sendiri, sekaligus mendapatkan kesempatan emas untuk memperoleh transfer teknologi budidaya pertanian mutakhir.
Petani pemilik lahan pada dasarnya membutuhkan kepastian hasil, keamanan aset yang mereka miliki, dan rasa percaya diri di hadapan orang lain.
Hal yang jauh lebih penting dari program ini adalah para petani pemilik lahan palawija dan padi ini, kini bisa menyerap pengetahuan dan pengalaman langsung dari model pertanian modern, seperti smart farming berbasis science farming.
“Dengan ilmu yang ditransfer ini, PTPN I (Persero) berharap mereka bisa lebih mandiri dan sejahtera di masa depan,” tambah Rivai.
Baca juga : Menjaga Kejayaan Tembakau Deli PTPN I (Persero)
Ekonomi Sirkular
Melalui perluasan skala kemitraan yang masif ini, PTPN I menempatkan para petani pemilik lahan lokal sebagai mitra strategis dalam ekonomi sirkular korporasi.
Ikatan kerja sama yang saling menguntungkan ini menempatkan masyarakat Ajong sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di sektor perkebunan nasional.
Simfoni kemitraan padat karya ini terbukti sukses melipatgandakan pendapatan masyarakat.
baik dari hasil kompensasi sewa tanah maupun upah kerja harian yang diterima secara rutin.
Supardi (48), salah seorang petani pemilik lahan di Desa Ajong mengatakan prakarsa PTPN I menyewa sawah milik warga sebagai langkah nyata dalam membangun kolaborasi yang inklusif.
“Kami merasa sangat beruntung dengan adanya program kemitraan lahan dari PTPN I Regional 5 ini”
“Pembayaran kompensasi yang langsung di depan memberikan kepastian bagi kami untuk menjamin kebutuhan keluarga,”
” Ditambah lagi, kami tidak kehilangan mata pencaharian karena tetap terlibat untuk menggarap lahan sendiri ,” ungkap Supardi
Model kolaborasi inklusif PTPN I (Persero) ini mendapat sambutan yang luar biasa hangat dari masyarakat Jember.
Terbukti, dalam setiap sekali musim tanam, warga mampu menggerakkan penyerapan ratusan hingga ribuan hektare lahan persawahan untuk disewa secara berkelanjutan.
Lewat komitmen kuat ini, PTPN I tidak hanya sukses menjaga kontinuitas pasokan tembakau premium di pasar dunia.
Tetapi juga mengukuhkan perannya sebagai motor penggerak kesejahteraan ekonomi rakyat yang membumi. (*)




