Menilik Peluang Saham BUMI Pasca Reli Dalam sebulan terakhir, harga saham BUMI telah naik hampir 24% dan bahkan pada perdagangan Kamis (22 Juli 2026) harga saham BUMI naik nyaris 9% dan ditutup di Rp183 per saham.
GLOBALNETWORK.ID – Harga saham perusahaan tambang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan kinerja positif dalam sebulan terakhir.
Analis melihat prospek saham BUMI masih menarik terutama jelang rilis kinerja semester I 2026.
Dalam sebulan terakhir, harga saham BUMI telah naik hampir 24% dan bahkan pada perdagangan Kamis (22 Juli 2026) harga saham BUMI naik nyaris 9% dan closed di Rp183 per saham.
Saham BUMI menjadi saham paling aktif di Bursa Efek Indonesia dengan volume transaksi mencapai 12,1 miliar saham dan nilai transaksi tembus Rp2,2 triliun.
Saham BUMI pun oleh investor asing dengan torehan net buy sebesar Rp56 miliar.
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menjelaskan bahwa prospek kinerja BUMI di semester I 2026 akan tetap positif .
Hal itu seiring dengan masuknya periode rilis kinerja dan menilik performa sepanjang kuartal I 2026.
iBUMI mencatatkan pendapatan sebesar US$417,7 juta pada Januari-Maret 2026, naik sekitar 20% ketimbang US$348,8 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun laba periode berjalan mencapai US$41,1 juta, tumbuh 37% secara tahunan. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 35% menjadi US$24,1 juta.
Hal tersebut juga tidak terlepas dari kinerja operasional BUMI yang solid di kuartal I 2026.
Produksi batu bara BUMI naik menjadi 19,2 juta ton dari 17,2 juta ton. Volume penjualan meningkat 14% menjadi 19,1 juta ton, sedangkan stripping ratio membaik menjadi 7,7 kali dari sebelumnya 8,4 kali.
Efisiensi biaya turut menopang profitabilitas. Biaya produksi rata-rata turun menjadi US$40 per ton pada kuartal I-2026 dari US$45,1 per ton.
Laporan Kuartal Kedua
Menurut Aditya, kemampuan BUMI meningkatkan volume sekaligus menekan biaya produksi menjadi faktor penting yang akan cermati dalam laporan kuartal kedua.
Ia menjelaskan pasar akan melihat apakah tren pertumbuhan volume dan efisiensi biaya dapat pertahankan.
Aditya menambahkan reli harga saham BUMI dalam sebulan terakhir juga tidak terlepas dari potensi kontribusi aset non coal perseroan yang memasuki tahap produksi.
BUMI telah memulai pengembangan tambang Mt. Carlton yang menghasilkan emas, perak, dan tembaga melalui Wolfram Limited di Australia.
Selain itu, operasi tambang terbuka di area V2 menjadi sumber produksi utama sejak April 2026, sementara aktivitas penambangan bawah tanah di area A39 telah mulai.
Seluruh konsentrat dari Mt. Carlton kepada Glencore melalui perjanjian offtake selama tujuh tahun.
Kontrak tersebut memberikan kepastian pembeli sekaligus memperkuat visibilitas komersial proyek.
“BUMI sedang bertransformasi dari produsen batu bara menjadi perusahaan pertambangan multikomoditas.
Meskipun kontribusi aset mineral masih akan berkembang secara bertahap, pasar berpeluang memberikan valuasi baru karena sumber pendapatan BUMI menjadi lebih beragam,” ujar Aditya.
Aditya juga menggarisbawahi strategi ekspansi ke komoditas tambang lain untuk membentuk komposisi EBITDA yang lebih seimbang antara bisnis batu bara dan non-batu bara pada 2031. **



