Jakarta, globalnetwork.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai industri perbankan nasional memiliki ketahanan memadai menghadapi potensi gejolak ekonomi global.
Termasuk risiko lonjakan harga energi akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global.
“Dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memiliki dampak terhadap perekonomian global maupun domestik,” ujar Dian dalam jawaban tertulis, Sabtu (16/5/2026).
Dampak terhadap perbankan Indonesia dapat terjadi melalui peningkatan risiko pasar dan risiko kredit.
Dari sisi risiko pasar, volatilitas pasar keuangan global dan tekanan terhadap rupiah dapat mempengaruhi kinerja portofolio keuangan bank.
Sementara itu, dari sisi risiko kredit, kenaikan harga energi dan inflasi dinilai dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi dunia usaha.
Kondisi tersebut berpotensi menekan profitabilitas perusahaan, melemahkan kemampuan bayar debitur, serta menurunkan daya beli masyarakat.
Meski demikian, OJK menilai kondisi industri perbankan nasional masih relatif kuat.
Dian menyebut kinerja perbankan tetap solid dengan profil risiko yang terjaga dan fungsi intermediasi yang masih berjalan baik.
Permodalan industri perbankan juga dinilai masih cukup kuat untuk menyerap potensi risiko dari ketidakpastian global.
Per Maret 2026, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 25,09%.
Di sisi lain, kualitas kredit perbankan juga masih terjaga. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross berada di level 2,14% atau masih di bawah ambang batas 3%..
OJK juga mencatat tren coverage pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) masih relatif stabil.
Untuk mengantisipasi potensi tekanan lebih lanjut, OJK bersama industri perbankan secara rutin melakukan stress test.
Stress test menggunakan berbagai skenario ekonomi dan geopolitik, termasuk simulasi kenaikan harga energi.
Ia menambahkan, skenario stress test tersebut mencakup perlambatan pertumbuhan ekonomi, depresiasi nilai tukar rupiah, hingga kenaikan suku bunga yang dapat mempengaruhi penurunan nilai aset perbankan.**




