Laba Bersih TUGU Tumbuh 17,4% hingga September 2026, Ditopang Perbaikan Hasil Underwriting
Globalnetwork.id — PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), perusahaan asuransi umum Grup Pertamina, membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp495,15 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 17,4% dari Rp421,75 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Laba per saham naik menjadi Rp139 dari Rp119. Secara konsolidasian, laba tahun berjalan mencapai Rp525,62 miliar, meningkat 6,5%.
Pertumbuhan tersebut bersumber dari bisnis inti. Pendapatan jasa asuransi tercatat Rp6,73 triliun, naik 4,5% dari Rp6,44 triliun, sementara hasil jasa asuransi tumbuh jauh lebih cepat, 17,2%, menjadi Rp602,04 miliar dari Rp513,68 miliar.
Dengan demikian, rasio hasil jasa asuransi terhadap pendapatan jasa asuransi membaik dari sekitar 8,0% menjadi 9,0%. Perbaikan margin ini mencerminkan disiplin seleksi risiko, penetapan harga, dan pengelolaan reasuransi pada portofolio korporasi yang selama ini menjadi keunggulan TUGU, khususnya di lini energi, properti, dan marine.
Berdasarkan informasi segmen, bisnis asuransi kerugian menyumbang hasil jasa asuransi Rp509,24 miliar, sedangkan segmen reasuransi yang dijalankan melalui anak usaha menyumbang Rp92,80 miliar.
Di luar bisnis asuransi, pendapatan usaha lainnya meningkat 23,6% menjadi Rp483,29 miliar dari Rp390,94 miliar.
Kontribusi terbesar tetap berasal dari usaha sewa properti dan kendaraan sebesar Rp295,74 miliar, disusul penjualan kendaraan Rp138,30 miliar yang melonjak dari Rp31,64 miliar seiring peremajaan armada anak usaha, serta jasa survei Rp49,26 miliar.
Analis Alvin Timothy Murthi dari Ajaib Sekuritas, menilai perbaikan margin underwriting merupakan sinyal terpenting bagi investor karena menunjukkan laba TUGU semakin bertumpu pada bisnis inti yang berulang, bukan pada hasil investasi yang bergantung pada kondisi pasar.
“Hasil jasa asuransi yang tumbuh dua digit di tengah pasar yang menantang menunjukkan kualitas portofolio TUGU. Ditambah diversifikasi dari reasuransi dan usaha nonasuransi, basis pendapatannya menjadi lebih seimbang. Konsistensi ke depan akan ditentukan oleh pengelolaan klaim dan efisiensi biaya,” ujarnya.
Di tengah koreksi tajam pasar modal domestik, dengan IHSG turun 29,79% sejak awal tahun, pendapatan investasi TUGU tercatat Rp342,30 miliar, turun 31,2% dari Rp497,40 miliar.
Pendapatan bunga dan dividen tetap menjadi penyangga, dan tren kuartalan menunjukkan pemulihan pada kuartal III. Penurunan ini tidak menghalangi pertumbuhan laba karena diimbangi penguatan hasil underwriting.
“Volatilitas pasar menekan imbal hasil portofolio seluruh perusahaan asuransi. Yang membedakan TUGU adalah penyeimbangnya: hasil underwriting yang tumbuh dua digit membuat profitabilitasnya lebih tahan terhadap gejolak pasar,” jelasnya.
Fondasi keuangan TUGU tetap kokoh. Total aset konsolidasian tumbuh 18,8% menjadi Rp32,91 triliun dari Rp27,71 triliun pada akhir 2025, dengan ekuitas Rp10,18 triliun. Arus kas bersih dari aktivitas operasi positif Rp613,20 miliar, naik 2,2% secara tahunan, menandakan laba yang dibukukan didukung arus kas riil.
Bagi pemegang saham, TUGU telah membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp355,5 miliar dengan rasio pembayaran 50%, naik dari sekitar 40% pada tahun-tahun sebelumnya.
Dengan permodalan yang jauh di atas ketentuan ekuitas minimum OJK dan peran sebagai pemimpin konsorsium asuransi hulu migas di bawah SKK Migas periode 2025–2027, TUGU memiliki ruang untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus imbal hasil bagi pemegang saham.




