Jakarta, globalnetwork.id – Guna mewujudkan sistem mobilitas perkotaan yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan di kawasan Bandung Raya, Ditjen Hubdat Kemenhub bahas keberlanjutan pembangunan _Bus Rapid Transit_ Bandung Basin Metropolitan Area (BRT BBMA) bersama Pemkot Bandung di Kantor Wali Kota Bandung, Rabu (13/5).
Selaku Ketua _Project Implementation Unit_ (PIU), Direktur Angkutan Jalan Muiz Thohir menyampaikan adanya BRT nantinya akan mampu menjadi pilihan utama masyarakat dalam bertransportasi melalui pelayanan yang aman, nyaman, tepat waktu, dan mudah diakses.
“Pembangunan BRT BBMA bukan seked, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem transportasi publik yang terhubung dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ungkap Muiz.
Ia menyebut implementasi BRT BBMA bergantung pada dukungan dan sinergi seluruh pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaksana pekerjaan, maupun masyarakat.
Adapun untuk penyiapan operasional BRT BBMA di tahun 2027 mendatang, terdapat beberapa lokasi yang akan dibangun menjadi Depo.
Yaitu depo Leuwipanjang yang dapat menampung sebanyak 20 unit bus dan Depo Cicaheum dengan kapasitas 59 bus.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan juga menekankan komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan sistem transportasi perkotaan yang terintegrasi melalui BRT BBMA.
“Saat ini pekerjaan di Depo Leuwipanjang dan Depo Cicaheum sedang berjalan. Di lapangan memang ditemukan beberapa tantangan seperti angkutan umum yang masih beroperasi di terminal Cicaheum dan juga masih terdapat pedagang di area terminal tersebut,” ujarnya.
pihaknya menyatakan akan segera menyelesaikan beberapa permasalahan yang ditemukan di lapangan sehingga diharapkan progres penyiapan operasional BRT berjalan dengan lancar. (**)




