Jakarta, globalnetwork.id. – Kinerja keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada kuartal I-2026 menunjukkan pertumbuhan solid di tengah dinamika pasar komoditas global.
Emiten tambang tersebut mencatat kenaikan laba bersih dan laba usaha seiring pertumbuhan pendapatan dari segmen batu bara maupun non-batu bara.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang tidak diaudit Perseroan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat naik 35,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi USD28,1 juta.
Di sisi operasional, laba usaha BUMI melonjak lebih agresif yakni sebesar 75,8% yoy menjadi USD49,1 juta.
Baca juga :Ini Deretan Ekspansi BUMI yang Jadi Sorotan Investor
Kinerja positif tersebut tidak terlepas dari peningkatan pendapatan perusahaan yang tumbuh 19,7% yoy menjadi USD417,7 juta pada kuartal pertama tahun ini.
Pendapatan ditopang oleh pertumbuhan bisnis inti batu bara serta kontribusi dari lini usaha non-batu bara.
Segmen batu bara saat ini masih menjadi kontributor terbesar terhadap total pendapatan perusahaan. Pada Q1 2026, pendapatan dari segmen batu bara tercatat mencapai USD348,2 juta atau naik sekitar 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga :Manuver Strategis BUMI Ekspansi ke Non-Batubara Bisa Bawa Harga Saham Naik
Kenaikan pendapatan batu bara sejalan dengan peningkatan volume penjualan yang mencapai 19,1 juta ton atau tumbuh 14% yoy, dengan kontribusi kuat dari Arutmin yang mencatat pertumbuhan penjualan signifikan sebesar 37%, dan stabilitas penjualan KPC yang meningkat 5% pada kuartal pertama 2026.
Dengan capaian tersebut, kontribusi pendapatan non-batu bara terhadap total pendapatan perusahaan mencapai sekitar 16,6%.
Raka Junico analis MNC Sekuritas menilai kinerja BUMI pada awal tahun ini tergolong solid, terutama karena perusahaan masih mampu menjaga pertumbuhan meski harga jual rata-rata batu bara secara tahunan mengalami penurunan.
Peningkatan volume penjualan mampu menjadi penyeimbang terhadap pelemahan harga komoditas sehingga profitabilitas perusahaan tetap terjaga.
Ia juga menilai harga batu bara global yang masih relatif tinggi di tengah tensi geopolitik dan konflik internasional berpotensi menjadi katalis tambahan bagi kinerja perseroan ke depan.
Selain itu, pasar juga mulai menantikan kontribusi dari tambang tembaga Wolfram yang diproyeksikan mulai beroperasi dalam waktu mendatang.
Ke depan, Raka optimistis bahwa BUMI mampu mencapai target EBITDA dari segmen batubara dan non-batubara seimbang di tahun 2031.
“BUMI agresif dalam mentransformasi bisnisnya menjadi perusahaan tambang multikomoditas lewat berbagai aksi korporasi akuisisi strategisnya sejak tahun lalu. Ini akan jadi driver untuk kinerja segmen non-batubara ke depan” ungkapnya. **




