Cebu, Globalnework.id – Pertemuan Menteri Pariwisata ASEAN ke-29 yang menjadi tajuk utama dalam gelaran ASEAN Tourism Forum (ATF) 2026 di Cebu, Filipina, resmi berakhir pada Kamis, 29 Januari 2026.
Sebelas negara anggota menyepakati langkah strategis untuk mentransformasi kawasan Asia Tenggara menjadi destinasi tunggal (single destination) yang berkualitas tinggi, berkelanjutan, dan inklusif.
Salah satu poin krusial dalam pernyataan bersama para menteri (M-ATM) adalah ambisi untuk menggenjot sektor wisata kapal pesiar (cruise tourism). Sektor ini dinilai sebagai segmen pasar premium yang tengah bertumbuh pesat dan mampu memberikan dampak ekonomi signifikan bagi wilayah pesisir.
Untuk merealisasikannya, negara-negara ASEAN berkomitmen memperkuat konektivitas pelabuhan, menyederhanakan fasilitasi perjalanan antarnegara, hingga meningkatkan standar keselamatan dan layanan.
Baca Juga: BCA Syariah dan ASTINDO Dorong Inklusi Keuangan Syariah di Sektor Wisata Melalui AMTF 2025
“Para menteri sepakat mempromosikan rencana perjalanan kapal pesiar multi-destinasi di seluruh perairan dan wilayah pesisir ASEAN,” bunyi pernyataan resmi tersebut.
Mengejar Ketertinggalan Konektivitas
Konektivitas masih menjadi kerikil dalam sepatu bagi pertumbuhan pariwisata regional. Dalam forum tersebut, para delegasi mendorong kolaborasi lebih erat antara sektor pariwisata dan transportasi untuk mengatasi kesenjangan infrastruktur.
Optimisme kawasan ini didorong oleh data pemulihan yang impresif. Sepanjang tahun 2025, ASEAN mencatat kunjungan 144 juta wisatawan internasional.
Tren kenaikan ini didukung oleh diversifikasi penawaran wisata dan strategi pemasaran digital yang lebih agresif melalui implementasi Rencana Sektor Pariwisata ASEAN (ATSP) 2026–2030.
Baca Juga: BNI Gelar Aksi Bersih di Pantai Mertasari Bali
Menteri Pariwisata Filipina, Christina Garcia Frasco, yang membacakan pidato Presiden Ferdinand R. Marcos Jr., menegaskan bahwa pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat akar rumput.
“Ketika pariwisata bersifat inklusif, ia menjadi pemberdaya. Ketika kebijakan dijalankan dengan kehati-hatian, ia menjadi berkelanjutan,” ujar Presiden Marcos.
Posisi Strategis Indonesia
Menteri Pariwisata (Menpar) RI, Widiyanti Putri Wardhana, yang hadir dalam upacara pembukaan, memandang posisi strategis ASEAN sebagai jantung pertumbuhan yang saling menguntungkan bagi negara anggota.
Indonesia melihat kawasan ini bukan sekadar pasar terdekat, melainkan mitra dalam menciptakan pengalaman baru bagi wisatawan.
Baca Juga: Rehabilitasi Mangrove BNI Dorong Pemulihan Lingkungan dan Ekonomi Pesisir Banyuwangi
“ASEAN bukan hanya pasar terdekat Indonesia, tetapi juga jantung pertumbuhan pariwisata yang mendorong kunjungan berulang, menghadirkan pengalaman baru, serta membuka peluang bersama bagi kawasan,” kata Menpar Widiyanti.
Langkah kolektif ini diperkuat dengan Strategi Pemasaran Pariwisata ASEAN (ATMS) 2026–2030 yang berbasis data dan berpusat pada audiens.
Peta jalan ini diharapkan mampu meningkatkan visibilitas Asia Tenggara sebagai kawasan yang siap bersaing dengan destinasi global lainnya melalui narasi budaya yang kuat dan komitmen terhadap pembangunan ramah lingkungan. (*)
