Globalnetwork.id,JAKARTA – Analis pasar modal menilai kinerja PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) tetap solid hingga akhir 2025, baik dari sisi pendapatan underwriting, hasil investasi hingga ke pencapaian laba. Di sisi lain, TUGU juga menjadi salah satu saham terbaik untuk kategori saham dengan kapitalisasi pasar sedang (mid cap).
Prospek solidnya kinerja keuangan TUGU diungkapkan oleh analis Rizal Rafly dari Ajaib Sekuritas yang hadir dalam Pertamina & Securities Collaboration Forum yang digelar pekan lalu. Event ini merupakan wadah bagi Pertamina dan anak usaha mengkomunikasikan fundamental kinerja keuangan kepada analis pasar modal.
Rafly mengatakan bahwa manajemen Tugu Insurance memberikan insight bahwa terjadi akselerasi kinerja pada kuartal III-2025. Hal ini menjadi pesan bahwa profitabilitas TUGU solid menjelang akhir tahun.
“TUGU tercatat mampu mempertahankan profitabilitas secara berkelanjutan, dan hingga kuartal III-2025 kinerja terlihat masih sejalan dengan tren beberapa tahun tahun sebelumnya,” ujarnya.
Lebih rinci dia menjabarkan bahwa pendapatan premi bruto TUGU tumbuh 5,6% secara (year on year) menjadi Rp7,25 triliun pada periode Januari-September 2025, dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp6,86 triliun. Kontribusi terbesar premi bruto dari bisnis property, energy offshore, dan marine hull.
“Claim paid ratio TUGU tercatat menurun 120 basis points, dari sebelumnya 27,3% menjadi 26,1% pada September 2025. Ini memberikan pesan klaim yang terjadi masih terjaga selama 2025,” ujarnya.
Hingga akhir kuartal III-2025, Tugu Insurance mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp594,82 miliar. Pencapaian ini setara dengan 85% dari laba bersih 2024 yang tercatat Rp700 miliar. Kinerja laba didukung oleh hasil investasi meningkat 21% secara tahunan menjadi Rp509,05 miliar.
Rafly menambahkan bahwa stabilitas kinerja Tugu Insurance tidak terlepas dari karakter bisnisnya yang fokus pada asuransi korporasi dan risiko berskala besar, terutama di sektor energi dan transportasi. Tugu Insurance menjadi market leader dalam sektor ini ketika perusahaan asuransi lain lebih banyak fokus ke segmen ritel, seperti otomotif.
“Model bisnis seperti ini memang tidak selalu menghasilkan pertumbuhan agresif, tetapi cenderung memberikan kestabilan pendapatan laba jika manajemen risiko dan underwriting dijalankan secara disiplin,” katanya.
Dari sisi permodalan, Tugu Insurance juga dinilai berada dalam posisi yang cukup kuat dengan total ekuitas Rp10,93 triliun. Rasio kecukupan modal (Risk Based Capital/RBC) mencapai 360,9% dan rasio kecukupan investasi (RKI) mencapai 272,6%, jauh di atas rata-rata industri asuransi umum. “Kondisi tersebut memberikan ruang yang memadai bagi perusahaan untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang polis sekaligus menjaga fleksibilitas bisnis ke depan,” ujarnya.
Selain kinerja keuangan, Rafly juga menyoroti valuasi saham TUGU yang saat ini diperdagangkan pada rasio price to book value (PBV) di bawah 0,5X. “Dengan kinerja yang relatif stabil dan posisi aset likuid yang cukup besar, valuasi saham TUGU saat ini tergolong undervalue sehingga potensi kenaikan masih terbuka,” ujarnya.
Terakhir dia menyoroti Tugu Insurance juga konsisten membagikan dividen dalam beberapa tahun terakhir, dengan rasio pembagian atau dividen payout ratio stabil di 40%. “Dividen TUGU memberikan yield yang menarik, dan pada saat yang sama laba ditahan juga memberikan kenaikan nilai buku TUGU secara konsisten tiap tahun,” ujarnya.
Ke depan, analis melihat ruang pertumbuhan TUGU masih terbuka, terutama dalam konteks penyesuaian struktur industri asuransi seiring penerapan kebijakan penguatan permodalan oleh regulator. “Perusahaan dengan permodalan yang lebih kuat berpotensi memiliki fleksibilitas lebih besar, baik untuk memperluas bisnis maupun menangkap peluang konsolidasi,” ujarnya.(jef)




