Peluncuran Buku “Perspektif”: Jejak Pemikiran Irsyad Muchtar yang Menolak Padam. Buku itu dirangkum dari Rubrik Majalah PELUANG Menjadi Warisan Intelektual
Globalnetwork.id , JAKARTA – Setelah lebih dari satu dekade mengisi ruang refleksi di Majalah Peluang, pemikiran-pemikiran kritis, tajam, dan penuh perenungan karya almarhum Irsyad Muchtar kini hadir dalam sebuah buku bertajuk “Perspektif: Bunga Rampai Opini 2015–2026.”
Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah rekam jejak pemikiran seorang jurnalis yang sepanjang hidupnya memilih menulis untuk merawat nalar publik, menghidupkan diskusi tentang ekonomi kerakyatan, koperasi, keadilan sosial, hingga berbagai fenomena kemanusiaan yang sering luput dari sorotan.
Peluncuran buku ini pada Kamis, 16 Juli 2026, di Auditorium Kementerian Koperasi, menjadi momen penting untuk mengenang sekaligus merayakan warisan intelektual Irsyad Muchtar.
Beliau yang selama bertahun-tahun konsisten menghadirkan perspektif berbeda melalui rubrik “Perspektif” di halaman penutup Majalah Peluang.
“Setiap tulisan adalah catatan zaman. Ketika dihimpun dalam satu buku, ia berubah menjadi saksi perjalanan pemikiran yang melampaui usia biologis penulisnya,” demikian pesan yang tersirat dari karya-karya nya.
Merangkum Lebih dari 100 Tulisan dalam Rentang 11 Tahun
Buku ini merupakan hasil penelusuran panjang terhadap artikel-artikel by line Irsyad Muchtar yang terbit sejak awal 2015 hingga Februari 2026.
Sebagian tulisan memang tidak semua berhasil ketemu karena keterbatasan dokumentasi dan perpindahan arsip selama bertahun-tahun.
Namun absennya beberapa artikel tidak mengurangi identitas kuat dan ciri khas pemikiran yang melekat pada setiap karya sang penulis.
Dari lebih dari seratus artikel , sebanyak 83 opini pilihan diseleksi dan ikelompokkan ke dalam lima tema besar yang merepresentasikan spektrum pemikiran Irsyad selama berkarya.
Kelima tema tersebut mencakup:
Eksistensi dan masa depan koperasi
Mazhab dan teori ekonomi dalam praktik
Fiksi, mitologi, dan semangat kewirausahaan
Informasi, media, dan fenomena framing
Akuntabilitas figur publik lintas profesi
Melalui tema-tema tersebut, pembaca diajak menjelajahi beragam peristiwa, gagasan, dan tokoh dunia yang terhubung secara cermat dengan realitas sosial-ekonomi Indonesia.
Dari Rochdale hingga Desa-Desa Indonesia
Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya menghubungkan sejarah besar dunia dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Dalam berbagai tulisannya, Irsyad menelusuri perjalanan koperasi dari gerakan perlawanan buruh di Rochdale, Inggris, hingga dinamika koperasi di Tanah Air. Ia mengulas bagaimana koperasi lahir sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat sekaligus mengkritisi berbagai penyimpangan yang membuat gerakan koperasi kehilangan ruhnya.
Tak berhenti di sana, pembaca juga akan menemukan ulasan tentang Adam Smith, Robert Kiyosaki, krisis hiperinflasi Jerman, kebangkitan ekonomi China, hingga praktik-praktik ekonomi global yang memengaruhi kehidupan masyarakat di negara berkembang.
Jurnalis yang Menemukan Rumahnya di Dunia Koperasi
Perjalanan intelektual Irsyad Muchtar tidak lahir tiba-tiba. Jauh sebelum menjadi penulis tetap Majalah Peluang, ia telah menempuh karier jurnalistik sejak bergabung dengan Harian Media Indonesia pada pertengahan 1990-an.
Awalnya di desk politik, tulisan-tulisannya yang kritis kerap membuat narasumber merasa tidak nyaman. Ia kemudian berpindah ke desk ekonomi lalu meliput dunia perkoperasian—bidang yang saat itu tidak banyak belum banyak terliput.
Dari ruang “sunyi” itulah Irsyad justru menemukan panggilan intelektualnya. Ia mengubah isu koperasi menjadi tema yang hidup, menarik, dan relevan bagi publik luas.
Melalui rubrik “Perspektif”, ia terus menggali kisah-kisah koperasi yang tersembunyi dari sorotan media arus utama, sekaligus memberikan kritik yang jernih dan objektif terhadap berbagai persoalan gerakan ekonomi rakyat.
Menulis untuk Melampaui Waktu
Lebih dari sekadar kumpulan opini, buku Perspektif: Bunga Rampai Opini 2015–2026 menjadi bukti bahwa tulisan memiliki daya hidup yang panjang.
Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, karya-karya Irsyad Muchtar mengingatkan bahwa menulis bukan hanya aktivitas jurnalistik, melainkan juga cara meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi berikutnya.
Melalui buku ini, irsyad mengajak pembaca melihat kembali berbagai peristiwa, tokoh, dan gagasan dari sudut pandang yang lebih reflektif.
Sebuah warisan yang menegaskan bahwa gagasan dengan kesungguhan tidak akan pernah benar-benar hilang.
Sebagaimana pesan yang mengalir di halaman-halaman terakhir buku ini: membaca memperkaya pikiran, tetapi menulis adalah cara membuat pemikiran tetap hidup, bahkan ketika penulisnya telah tiada. (***)




