Globalnetwork.id, JAKARTA — Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menggandeng PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) , membangun ekosistem perkebunan kelapa sawit berbasis koperasi di Indonesia.
Menkop menegaskan , langkah ini merupakan mandat langsung dari Presiden untuk memperkuat posisi tawar petani melalui wadah koperasi, baik di sektor hulu maupun hilir.
Saat ini, tercatat ada 1.135 koperasi existing yang sudah bergerak di sektor sawit dan akan integrasikan dalam ekosistem baru ini.
“Kami ingin membangun model PT Agrinas sebagai inti, dan koperasi-koperasi sawit sebagai mitra plasma,” ujar Menkop di Jakarta Kamis (2/7)
Menkop menjelaskan melalui kerja sama ini, koperasi tidak hanya memiliki kebun, tetapi juga bisa memiliki pabrik pengolahan sendiri.
” Koperasi adalah instrumen untuk menjadikan tata niaga sawit lebih adil. Kita akan dampingi agar mereka profesional dan mandiri,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Kemenkop akan meresmikan pabrik Crude Palm Oil (CPO) milik koperasi di Musi Banyuasin pada akhir Juli atau awal Agustus mendatang.
Menkop Ferry Juliantono optimistis keterlibatan koperasi dalam skala industri akan meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan.
Ia menekankan bahwa koperasi saat ini memiliki kapasitas finansial dan pengalaman yang mumpuni.
“Koperasi sekarang punya pabrik CPO sendiri hingga produk turunan, nantinya petani menjual kembali di koperasi desa. Ini adalah bentuk kedaulatan ekonomi masyarakat,” ungkap Menkop.
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Muhammad Abdul Ghani, menjelaskan pihaknya saat ini mengelola lahan seluas 850.000 hektar di kawasan hutan yang sebelumnya oleh Satgas PKH.
Lahan ini rencananya akan menjadi 1,25 juta hektar. Dari total lahan tersebut, minimal 250.000 hektar untuk plasma sekitar 250 koperasi.
Selain itu masih ada 120.000 hektar sawit rakyat yang ikatan formalnya belum jelasm
Selain sawit, kerja sama ini juga mencakup pengembangan komoditas pertanian strategis lainnya guna mendukung swasembada pangan dan energi nasional.
Agrinas akan menanam 400.000 hektar kedelai, 250.000 hektar jagung, serta 300.000 hektar singkong sebagai bahan baku energi terbarukan . **




