Laba Bersih BUMI Meroket 189% di Semester I 2026, Ternyata Begini Jeroannya
Globalnetwork.id , Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan kinerja yang impresif pada semester I 2026. BUMI mencatat laba bersih sebesar USD58,9 juta atau melonjak 189% ketimbang periode yang sama tahun lalu.
Di saat yang sama, pendapatan tumbuh 28% secara tahunan menjadi USD866,8 juta.
Analis Devi Praharsa Anggoro, OCBC Sekuritas menilai pertumbuhan pendapatan BUMI terdorong oleh kombinasi peningkatan produksi dan penjualan, harga jual batu bara yang masih bertahan pada level yang relatif kuat, serta mulai tercerminnya kontribusi dari aset non-batubara yang telah diakuisisi .
Menurutnya, ketiga faktor tersebut menjadi motor utama yang menopang kenaikan kinerja operasional sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Namun, menurut Devi Praharsa Anggoro, OCBC Sekuritas, lonjakan laba bersih tidak semata-mata berasal dari pertumbuhan pendapatan.
BUMI juga berhasil menjaga disiplin biaya sehingga kenaikan beban operasional tidak sebesar pertumbuhan pendapatan yang dibukukan.
“Optimalisasi biaya menjadi faktor penting di balik peningkatan profitabilitas BUMI. Ini merupakan tantangan bagi industri pertambangan, terutama ketika harga minyak berada pada level tinggi, mengingat bahan bakar merupakan salah satu komponen utama cash cost dalam aktivitas penambangan,” ujar Devi Praharsa Anggoro, OCBC Sekuritas.
Lampaui Pertumbuhan Pendapatan
Keberhasilan menjaga efisiensi tersebut membuat pertumbuhan laba BUMI jauh melampaui pertumbuhan pendapatan.
Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola operasional secara lebih efektif sekaligus meningkatkan kualitas keuntungan yang dihasilkan.
Di sisi lain, Devi Praharsa Anggoro, OCBC Sekuritas menilai capaian semester I 2026 juga memiliki arti strategis bagi transformasi bisnis BUMI.
Menurutnya, periode ini menjadi momentum positif yang menandai semakin terlihatnya arah transformasi BUMI menjadi perusahaan tambang multi-komoditas, tidak lagi hanya bergantung pada bisnis batu bara.
Transformasi tersebut semakin mendapat perhatian setelah sebelumnya BUMI mengungkapkan bahwa pengembangan tambang emas dan tembaga Wolfram di Queensland, Australia, berjalan lebih cepat ketimbang target operasional awal.
Perkembangan tersebut membuka peluang percepatan kontribusi bisnis non-batu bara terhadap kinerja grup.
Devi Praharsa Anggoro, OCBC Sekuritas menambahkan bahwa prospek segmen non-batu bara juga semakin menarik karena harga emas dan tembaga masih bertahan pada level yang tinggi sementara tambang Wolfram memiliki struktur cash cost yang relatif rendah.
Dengan kombinasi tersebut, kontribusi bisnis non-batu bara diperkirakan akan terlihat lebih solid pada kinerja kuartal III 2026.
“Kami melihat kuartal ketiga berpotensi menjadi periode ketika investor mulai melihat kontribusi aset non-batubara mulai terlihat lebih signifikan dalam kinerja BUMI. Kehadiran aset logam memberikan sumber pertumbuhan baru sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap siklus batu bara,” kata Devi Praharsa Anggoro, OCBC Sekuritas.
Menurut Devi Praharsa Anggoro, OCBC Sekuritas, peningkatan profitabilitas juga akan memperkuat posisi keuangan BUMI dalam mendukung agenda ekspansi ke depan.
Semakin tinggi kemampuan perusahaan menghasilkan laba, semakin besar pula fleksibilitas pendanaan yang dimiliki, baik melalui arus kas internal maupun akses terhadap pendanaan eksternal.
“Seiring meningkatnya profitabilitas BUMI, kemampuan membiayai ekspansi menjadi lebih solid karena kapasitas pendanaan internal meningkat, sementara akses terhadap pembiayaan eksternal juga cenderung semakin baik ketika fundamental perusahaan terus menguat,” tutup Devi Praharsa Anggoro, OCBC Sekuritas.**



