Globalnetwork.id, JAKARTA. — Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai langkah pemerintah mematok kupon pads level 6,90% dan 7,00% sudah cukup akomodatif untuk bersaing dengan instrumen pendapatan tetap lainnya.
Prospek imbal hasil SBN ritel sepanjang semester II-2026 tetap tinggi karena tekanan yield pasar obligasi pemerintah belum sepenuhnya mereda.
“Pasar pendapatan tetap masih menunjukkan biaya modal mahal, dengan BI Rate berada di 5,75%. yield obligasi pemerintah tenor pendek-menengah tinggi, dan risiko sovereign belum turun merata,” ungkap Syafruddin.
Menurut Syafruddin, terdapat sejumlah faktor makroekonomi domestik yang menopang bertahannya era kupon tinggi ini, yaitu:
Meskipun ORI030 masuk kategori sebagai instrumen yang aman dari risiko gagal bayar (default risk) , Syafruddin mengingatkan investor ritel untuk tidak abai terhadap risiko pasar (market risk).
Hal itu karena sifat ORI030 bisa perdagangkan secara bebas setelah masa minimum kepemilikan terlewati.
Harga obligasi ini di pasar sekunder berpotensi mengalami penurunan (depresiasi nilai pokok) jika yield pasar merangkak naik melebihi tingkat kupon.
Oleh sebab itu, para pemodal sarankan untuk melakukan pembelian secara selektif dengan menyesuaikan jangka waktu investasi.
Juga rencana perputaran likuiditas pribadi, serta proyeksi arah suku bunga acuan ke depan.
Untuk instrumen yang tidak dapat perdagangkan, investor harus bersiap memegangnya hingga jatuh tempo atau memanfaatkan opsi pelunasan percepat (early redemption) jika fasilitasi.
Target Indikatif Rp 20 Triliun
Sebelumnya. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu resmi menawarkan SBN ritel seri ORI030 dengan target indikatif Rp20 triliun dan pilihan kupon tetap hingga 7,00%.
Adapun masa penawaran instrumen investasi ini berlangsung mulai 6 Juli hingga 30 Juli 2026 dengan target perolehan dana indikatif sebesar Rp20 triliun.
Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu, Novi Puspita Wardani, menjelaskan bahwa target indikatif tersebut bersifat fleksibel.
Pemerintah dapat melakukan penyesuaian kuota penerbitan sejalan dengan dinamika progres penjualan di lapangan.
Pada penerbitan kali ini, ORI030 hadir dalam dua pilihan tenor investasi. Yakni tenor 3 tahun (ORI030T3) dan tenor 6 tahun (ORI030T6).
Masing-masing seri menawarkan tingkat kupon tetap (fixed rate) yang kompetitif dan dapat diperjualbelikan kembali (tradable) di pasar sekunder.
Guna mengoptimalkan penyerapan pasar, Kemenkeu fokus memperluas basis jangkauan investor ritel .
Caranya melalui penguatan literasi digital dan kemudahan pembelian lewat kanal online mitra distribusi resmi.
Pemerintah juga berkomitmen menjaga kepercayaan pasar melalui pengelolaan SBN dan APBN secara disiplin dan terukur. **



