Globalnetwork.id — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bersama Forum Wartawan Perhubungan menggelar _Media Brief Discussion_ di Kantor Kementerian Perhubungan di Jumat (11/9), untuk membahas strategi penanganan kepadatan di Lintas Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.
Turut hadir, Direktur Perkapalan dan Kepelautan Samsuddin, Plt. Direktur KPLP Triono, serta Corporate Secretary ASDP Windy Andale.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo menyampaikan bahwa penanganan kepadatan Ketapang-Gilimanuk perlu secara menyeluruh
dengan memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan permintaan dan kapasitas efektif yang tersedia.
“Kepadatan di Ketapang-Gilimanuk tidak dapat hanya dari sisi jumlah kendaraan maupun kapal. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi kapasitas efektif layanan, khususnya untuk kendaraan logistik.
Karena itu, penanganannya harus secara terintegrasi, mulai dari stabilisasi operasional hingga penguatan kapasitas infrastruktur dan fasilitas pendukung,” ujar Heru.
Melalui kegiatan tesebut, ASDP memaparkan kondisi aktual Lintas Ketapang-Gilimanuk serta berbagai faktor yang memengaruhi ketidakseimbangan antara permintaan dan kapasitas layanan.
Pembahasan secara khusus menyoroti tekanan pada pelayanan kendaraan logistik yang menjadi salah satu volume dominan pada periode kepadatan.
Berdasarkan data periode 30 Agustus–5 September 2026, tercatat sebanyak 43.327 kendaraan melintas di Lintas Ketapang-Gilimanuk, meningkat 8% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode tersebut, sebanyak 176 kapal beroperasi dengan 1.210 trip, masing-masing mengalami penurunan 11% dan 21% secara tahunan.
Dalam situasi tersebut, terdapat juga faktor lainnya yang memperbesar ketidakseimbangan antara permintaan dan kapasitas.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh menurunnya kapasitas lintasan alternatif, terbatasnya fleksibilitas kendaraan logistik,
belum dapat digunakannya Dermaga Bulusan, serta keterbatasan kapasitas dermaga yang saat ini masih dalam tahap peningkatan.
Langkah ASDP kedepan
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale menjelaskan bahwa saat ini perusahaan terus menyiapkan langkah untuk meningkatkan pelayanan
sekaligus memperkuat kesiapan lintasan menghadapi peningkatan mobilitas masyarakat dan kendaraan logistik, terutama pada periode Nataru 2026/2027.
“Yang kami lakukan bukan hanya mengurai antrean ketika kepadatan terjadi, tetapi juga menyiapkan solusi yang lebih fundamental agar lintasan memiliki kapasitas dan fleksibilitas yang semakin baik dalam menghadapi pertumbuhan permintaan ke depan,” jelas Windy.
Untuk jangka pendek, ASDP menyiapkan langkah stabilisasi melalui pengendalian arus dan penguatan kapasitas di Lintas Ketapang-Gilimanuk.
Sementara dalam jangka menengah dan panjang, penguatan melalui peningkatan kapasitas dermaga, berkoordinasi untuk pengembangan buffer area, penyiapan akses pendukung,
serta penambahan armada untuk mendukung operasi di Lintas Ketapang-Gilimanuk dan Tanjung Wangi–Lembar melalui operasional kapal perbantuan.
Dari sisi infrastruktur, ASDP menargetkan peningkatan kapasitas Dermaga II Gilimanuk dan Dermaga V Ketapang dari dermaga ponton menjadi Dermaga MB akan dapat beroperasi selambatnya pada periode Angkutan Lebaran 2027.
Dukungan Digitalisasi dan Keslarasan Data
Dalam diskusi juga membahas pentingnya dukungan digitalisasi dan keselarasan data dalam mendukung kelancaran proses pelayanan.
Salah satunya melalui penguatan kerja sama antara sistem Ferizy dan Inaportnet, khususnya terkait data manifest, sehingga informasi dalam proses pelayanan dapat semakin selaras.
Triono menjelaskan bahwa integrasi data manifest antara Ferizy dan Inaportnet dapat berjalan dengan baik sehingga meminimalisasi perbedaan data antarsistem.
“Kami berharap kerja sama antara Ferizy dan Inaportnet, khususnya terkait data manifest, dapat terjalin dengan baik.
Dengan adanya integrasi dan keselarasan data, akan dapat meminimalisasi perbedaan data manifest sehingga informasi yang dalam proses pelayanan dapat lebih akurat dan konsisten,” ujar Triono.
Dengan berbagai langkah tersebut, ASDP berkomitmen untuk terus memperkuat Lintas Ketapang-Gilimanuk sebagai salah satu jalur strategis konektivitas Jawa-Bali
sekaligus memastikan kesiapan layanan dalam menghadapi peningkatan mobilitas masyarakat dan logistik, termasuk pada periode Nataru 2026/2027 mendatang.**




