Saat IHSG Tertekan, Saham Asuransi Umum Ini Ramai Ditransaksikan
Globalnetwork.id. (JAKARTA) – Perdagangan saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) menunjukkan dinamika berbeda ketika tekanan jual melanda Bursa Efek Indonesia pada Jumat menyusul pengumuman MSCI. Di tengah sentimen negatif pasar, nilai transaksi TUGU justru menembus Rp31 miliar.
Angka tersebut setara sekitar sepuluh kali rata-rata nilai transaksi harian dalam kondisi normal. Aktivitas perdagangan yang meningkat juga disertai pembelian bersih investor asing sebesar Rp3,2 miliar.
Perbandingannya cukup mencolok. Investor asing secara agregat melakukan penjualan bersih sekitar Rp3,4 triliun di pasar saham domestik.
Selain itu, secara year-to-date, saham anak usaha Pertamina tersebut masih naik 7,3%, sementara IHSG telah melemah sekitar 40% dan indeks IDXFinance turun sekitar 24%.
Perbedaan kinerja harga itu menimbulkan pertanyaan mengenai faktor yang menopang minat investor. Salah satu jawabannya dapat ditelusuri melalui pertumbuhan bisnis dan profil pembagian keuntungan perusahaan.
Sepanjang semester I-2026, TUGU mencatatkan hasil jasa asuransi Rp602,9 miliar, naik 85,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan usaha lainnya meningkat 24,6% menjadi Rp321,3 miliar, sementara laba bersih bertambah 76,8% menjadi Rp480,3 miliar.
Selain kinerja laba, TUGU memiliki rekam jejak pembagian dividen. Rasio pembayaran dividen dari laba tahun buku 2025 mencapai 50%, yang menjadi salah satu pertimbangan investor berorientasi arus kas yang kuat dari portofolio investasinya.
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mengatakan bahwa dalam kondisi pasar yang sulit, saham dengan fundamental solid, valuasi relatif menarik, dan potensi dividen dapat menjadi perhatian investor.
“Ketika indeks mengalami tekanan besar, pasar cenderung mencari emiten yang punya dukungan fundamental. Dalam konteks TUGU, pertumbuhan laba serta kebijakan dividen memberi alasan bagi investor untuk mencermati saham ini lebih jauh,” ujar Abdul Azis.
Data registrasi pemegang efek memperlihatkan perkembangan lain. Dari Juni hingga September 2026, kepemilikan investor korporasi naik 3,71 juta saham; penasihat investasi 1,02 juta; perbankan 711 ribu; reksa dana 623 ribu; firma 600 ribu; dan institusi asuransi 253 ribu saham.
Di sisi lain, kepemilikan investor individu turun sekitar 5,95 juta saham. Pergeseran komposisi ini konsisten dengan meningkatnya porsi investor institusional.
Setelah lonjakan aktivitas perdagangan tersebut, perhatian pasar berpeluang bergeser menuju kinerja kuartal III-2026. Angka hasil jasa asuransi, laba, dan kontribusi perpanjangan kontrak akan menjadi bahan evaluasi untuk menilai kesinambungan pertumbuhan.
“Katalis berikutnya tentu laporan kuartal III. Pasar ingin melihat apakah tren positif pada semester pertama dapat dipertahankan, termasuk dari aktivitas renewal. Jika hasilnya solid, daya tarik fundamental TUGU berpotensi semakin terlihat,” kata Abdul Azis. **



